Jumat, 01 April 2011

PERKEMBANGAN ANAK USIA 1-4 TAHUN

Fase Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 01 sampai dengan 04 tahun.
pertumbuhan dan perkembangan anak tidak dapat dipastikan dengan batasan-batasan umur tertentu. Karena tiap anak berbeda satu sama lain tergantung pada pembawaan, bakat, lingkungan dan kemauan anak. Tetapi secara singkat dapat diketahui tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan anak usia 1-4 tahun
pada umumnya.
Secara singkat ada 8 tanda-tanda esensial dalam perkembangan anak ahir tahun pertama dan permulaan usia 4 tahun. Yaitu:
Pada permulaan periode ini anak sudah bisa duduk, berdiri dan berjalan dengan bantuan. Bila sudah mencapai 4 tahun anak dapat meloncat-loncat, memanjat, merangkak dibawah meja dan kursi, motorik praktis sudah dapat mandiri.
Pada usia 4 tahun tangan dan mata dapat bekerja sama dalam koordinasi yang baik, anak lebih dapat mengadakan orientasi dalam situasi-situasi yang tidak asing. Pada usia ini tangan anak merupakan alat untuk mengadakan eksplorasi keliling yaitu melalui manipulasi dengan benda-benda, terutama alat-alat permainan dan benda-benda sehari-hari.
Pada usia 4 tahun anak sudah dapat berbahasa. Ia dapat menggambil bagian secara aktif dalam percakapan dirumah; komunikasi dengan teman-teman sebayanya memperoleh dimensi baru. Ia dapat memberi pengaruh melalui bicaranya, ia dapat menyatakan keinginan dan kebutuhan-kebutuhannya.
Pada akhir periode ini anak memperoleh pengertian banyak mengenai benda-benda menurut warna dan bentuknya, membedakan antara suara keras dan lembut, ia mengerti nama benda-benda dan menanyakan nama benda yang belum diketahuinya.
Usia 4 tahun sedikit banyak sudah mengetahui ruang dan waktu. Ia mengerti perbedaan antara siang dan malam. Semisal dia tahu waktu bermain pada siang hari dan tidur pada malam hari. Megerti apa yang disebut di sana, di sini, di atas, di bawah. Dan sudah menguasai serangkaian tugas-tugas seperti; menyisir rambut, mengenakan baju, mengambil barang dari almari, melipat dan lain-lain.
Pengertian akan norma-norma, seperti kata baik, buruk, tidak baik, jangan, tidak boleh.
Kebutuhan untuk aktif, untuk berbuat sesuatu makin lama ditentukan secara kognitif, artinya: perbuatan dan tingkah lakunya tidak lagi ditentukan secara kebetulan sesuai dengan apa yang ada; anak sudah dapat membuat rencana, memikirkan apa yang akan dilakukannya
Anak tidak hanya menginginkan ada bersama-sama dengan orang dewasa, melainkan ia sudah menginginkan dapat bergaul secara aktif dengan mereka. Disamping itu ada kebutuhan untuk bergaul dengan anak-anak sebaya. Pada akhir periode ini anak juga sudah mampu untuk bermain bersama dengan anak-anak sebaya dan memperhatikan aturan-aturan yang ada.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pada anak usia 1-4 tahun anak mengalami perkembangan yang sangat cepat, baik dalam bentuk biologis maupun psikologis. Sehingga pada awal usia tersebut orang tua harus benar-benar memperhatikan tiap-tiap tahap perkembangan yang dilalui. Dan memberikan pelayanan terbaik terhadap kebutuhan perkembangannya. Karena jika satu saja tahap perkembangan anak terlewatkan maka akan berpengaruh terhadap kondisi anak pada perkembangan selanjutnya. Misalnya kebutuhan bermain bagi anak, orang tua harus sadar bahwa bermain merupakan hal yang penting bagi anak. Karna dengan bermain mereka dapat mempelajari banyak hal.
Melalui permainan dapat melatih kemampuan motorik anak untuk meguasai berbagai kemampuan fisik ynag dibutuhkan. Mereka dapat belajar memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam permainan itu. Mereka juga belajar bersosialisasi dan memahami aturan social yang ada melalui permainan bersama-sama dengan teman. Berbagai aspek emosi terlihat ketika bermain, seperti kegembiraan, kekecewaan, kesabaran, ketahan dalam berkompetensi dan lain-lain. Aristoteles menempatkan anak usia 1-4 dimasukkan pada tahap pertama perkembangan anak, yaitu masa bermain.
Sebaliknya ketika orangtua tidak menyadari hal tersebut dan membatasi anaknya untuk bermain maka akan menghambat perkembangan anak dalam berbagai aspek, seperti perkembangan fisik, intelektual, social dan emosional. Karena kemampuan perkembangan anak selain factor hereditas/ genetic, lingkungan, perkembangan juga tergantung pada peluang mereka untuk belajar dan mengaktualisasikan dirinya.
Disamping tanda-tanda di atas perkembangan kondisi kejiwaan anak juga mengalami perkembangan bertahab dari tahun ketahun, diantaranya:
Usia 1 tahun
Seorang anak tidak memiliki rasa takut pada siapapun. Karena pada usia tahun pertama seorang anak memerlukan cinta kasih yang lebih, selalu taat aturan, dan selalu mengantungkan segalanya kepada orang lain. Dan selalu menangis ketika mendapat gangguan dan merespon ketika diajak bermain.
Usia 2 tahun
Anak mulai mencari tahu apa yang ada di sekitarnya. Memiliki rasa ingin tahu tinggi.mulai menirukan prilaku orang disekitarnya.
Pada masa peralihan 2 ke 3 adalah masa sulit. Karena pada masa ini anak ingin mencoba kemampuannya serta mulai mengambil pelajaran dari percobaan dan kesalahan yang terjadi. Anak mulai merusak dengan sengaja atau tidak. Cenderung melawan perintah orang tua. Sering membangkang dan berkata “tidak”, dan sering marah bila diganggu. Tetapi kita tidak boleh menghalangi emosinya dan membiarkan anak melampiaskan gejolak emosinya. Pada tahun ke-3 anak lebih tenang dari masa sebelumnya. Anak dapat lebih memahami dan bekerja sama.
Usia 4 tahun
Anak semakin aktif dan berusaha mencari tahu tentang segala yang ada disekitarnya, juga tentang dirinya. Mulai bertanya tentang segala sesuatu. Pada masa ini anak menjadi lancang berbicara, terkadang mengejek orang lain bahkan keluarga dekat.
Menurut Nashari, anak usia 1-4 adalah masa-masa eksplorasi; dengan eksplorasi yang dilakukan anak dapat memperoleh pengetahuan yang bersifat indrawi (konkret) selanjutnya menyimpannya dalam pikiran. Oleh karena itu, kesan anak terhadap benda-benda konkret biasanya sangat kuat. Selain itu, pada masa ini anak juga sudah dapat dilatih mendisiplinkan diri dengan mengajarkan konsekuensi alami dan logis dari perbuatannya.
Awal dua tahun pertama merupakan periode sensorimotor, pada tahab ini anak belajar untuk meningkatkan kemampuan pengindraan dan motoriknya untuk melatih kemampuan berpikir kelak. Menurut Jean Peaget dalam “Theory Of Cognitive Development” menyusun periode sensorimotorik dalam 6 subtahap sebagai berikut:


Lahir - 6 minggu
Tahab perkembangan reflek seperti menghisab obyek yang ada dimulut, dan menutup tangan ketika benda menyentuhnya.
6 minggu - 4 bulan
Tahap perkembangan kebiasaan/habit seperti mengulang-ulang tindakan tertentu yang melibatkan anggota tubuhnya mulai dilakukan. Misalnya menggerakkan tangan dan kaki.
4 – 9 bulan
Perkembangan kordinasi antara penglihatan dan kemampuan untuk menggengam dan meraih sesuatu
9- 12 bulan
Perkembangan logika dan kordinasi antara alat dan tujuan) periode ini merupakan periode yang sangat penting, yang disebut “firs proper intelegence”, baik mulai melakukan permulaan tindakan yang menunjukkan kecerdasannya, maupun mulai menggerakkan sesuatu untuk maksud tertentu.
12-18 bulan
perkembangan pencarian alat-alat baru untuk mencapai tujuannya bayi senang bergerak untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya dan mencoba-coba untuk melakukan sesuatu untuk melihat akibat yang ditimbulkan. Pada tahab ini oleh peaget anak disebut sebagai “peneliti muda” yang melakukan eksperimen semu untuk menemukan metode baru untuk memenuhi tantangan.
Perkembangan awal dari pemahaman atau kreativitas yang sesungguhnya. Pada tahab ini mulai masuk pada tahab pra-operasional.
Sedangkan menurut Erikson anak-anak usia 1-4 tahun mengalami tahap perkembangan psiko-sosial. Yang penulis kelompokkan seperti pada Tabel 1.1
Tabel 1-1
Usia
Ciri khas perkembangan

1-2 tahun
Trust Vs mistrust (percaya dan ketidak percayaan )
Bayi yang mendapatkan perawatan dengan penuh kasih sayang dan cinta dari orang sekitarnya akan mengembangkan rasa percaya dan rasa aman dan muncul harapan dasar dalam kehidupannya. Sementara itu bayi yang kurang perhatian dan kasih sayang akan mengembangkan perasaan tidak aman dan kurang dapat mempercayai lingkungan.

2-4 tahun
Autonomy Vs shame, doubt (otonomi, rasa malu dan keragu-raguan)
Anak yang mendapatkan pengasuhan yang baik akan mengembangkan rasa yakin akan kemampuannya, mampu mengendalikan dirinya, dan bangga akan dirinya.




Dari beberapa tahap perkembangan di atas dapat disimpulkan bahwa anak usia 1-4 tahun mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, seorang anak sudah mampu memfungsikan organ-organ tubuhnya, dan mengembangkan cara berpikirnya, serta sudah mulai mampu peka terhadap kondisi lingkungan. Oleh karena itu, orang tua harus mampu memberikan cinta kasih, asuhan, didikan terbaik kepada anak. Karena pada tahap ini peran orang tua sangat urgen. Jika orang tua salah mengasuh dan melewatkan tugas-tugas perkembangan anak maka akan berakibat fatal.
Hasil penelitian yang menunjukkan sumber pangkal dari criminal dan asusila didunia ini adalah perbuatan orang tua yang buruk. Terutama jika seorang ibu salah asuh, salah didik, salah rawat, sehingga memprodusir anak-anak yang kurang baik. Akibat tersebut disebabkan pada usia ini anak berada pada masa kritis dan menentang karena anak mulai mengenal aku (egosentris) dan sadar akan tenaga dan kemampuannya diri, dan ingin menjadi diri sendiri dan bertingkah laku menurut kemauannya sendiri terutama ketika anak berumur 2-4 tahun. Sehingga fase ini bias disebut fase negative/ fase meraja/ atau periode verneinung.
Meskipun masa kritis ini berlangsung kira-kira 2-10 bulan tetapi orang tua harus memperhatikan betul gejala-gejala emosi yang yang ditimbulkan, karena jika tidak, akan mengundang banyak bahaya yang akan berakibat fatal terhadap perkembangan anak, seperti:

Salah-tingkah dari orang tua yang kurang bijaksana serta tidak sabaran,
Salah bentuk dari kebiasaan-kebiasaan anak yang buruk (misalnya menjadi manja, Bengal, yang berkepanjangan dan lain-lain).
2.2 Tugas-tugas Perkembangan Anak Usia 1-4 Tahun
Robert Havighurs melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas ini berkaitan dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai pra-syarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidupnya. Dimana tugas ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau ketrampilan yang dimiliki individu sesuai dengan usia dan fase perkembangannya.
Usia 1- 4 tahun termasuk pada tugas –tugas perkembangan pada usia bayi dan kanak-kanak, adapun tugas perkembangan tersebut antara lain;
Belajar berjalan, terjadi antara usia 9 sampai 15 bulan, dimana otot, tulang kaki dan susunan syarafnya telah matang untuk berjalan
Belajar memakan makanan padat, karena alat-alat mengunyah, pencernaan telah matang untuk hhal tersebut.
Belajar berbicara
Belajar buang kecil dan air besar, hal ini dilakukan pada waktu dan tempat yang sesuai dengan norma masyarakat. (sebelum usia 4 tahun)
Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin; melalui pengamatan anak dapat melihat perbedaan tingkah laku, bentuk fisik dan pakaian yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, pada tahap ini orang tua harus mampu untuk memilihkan mainan, pakaian, maupun aspek lainnya sesuai dengan jenis kelamin anak.
Mencapai kesetabilan jasmanian fisiologis. Kekebalan tubuh Anak berbeda dengan orang dewasa sehingga cepat mengalami perubahan temperature badannya. Dalam pencapaian kestabilan jasmani ini, orang tua perlu memberikan perawatan yang intensif, baik menyangkut makanan yang bergizi, kebersihan, maupun perlindungan badan anak.
Membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan social, dan alam. Seperti nama ibu, ayah, kucing, meja dan sebagainya.
Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain. Peran orang tua harus selalu memberikan kehangatan, dan kenyamanan bagi anak sehingga ketika ia memperoleh pergaulan dengan orang tua menyenangkan, maka anak akan cenderung akan bersikap ramah dan ceria.
Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk, yang berarti mengembangkan kata hati. Anak kecil dikuasai hedonisme naïf, dimana kenikmatan dianggap baik, dan penderitaan dianggap buruk. Sehingga anak perlu bimbingan, nasihat, agar konsep baik buruk teresebut tidak salah tempat.
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 1-4 Tahun
Setelah membicarakan fase-fase perkembangan seperti diatas, perlu dikaji tentang apakah yang mempengaruhi perkembangan membentuk pribadi manusia, karena fakta menunjukkan perkembangan satu anak dengan anak lain berbeda. Dimana hal ini tidak dapat dihindarkan dari adanya factor yang mempengaruhinya.
Untuk mengetahu hal tersebut, maka kita perlu mengetahui hakekat seorang anak, yang mana anak bukanlah miniatur orang dewasa seperti pendapat masa lalu. Tetapi merupakan mahluk yang berbeda dengan orang dewasa. Seorang anak yang baru lahir telah diberikan oleh Allah berupa potensi-potensi, dimana potensi tersebut akan bisa terwujud jika dikembangkan dengan baik. Jika tidak, maka perkembangan anakpun juga akan mengalami hambatan bahkan kegagalan.
Adapun berbagai factor yang mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh anak antara lain;
Factor sebelum lahir, yakni adanya gejala-gejala tertentu yang terjadi sewaktu anak masih didalam kandungan.
Seperti: adanya gejala kekurangan nutrisi, pada ibu janin, infeksi bakteri, bahkan kondisi psikologis ibu hamil juga dapat memberikan pengaruh terhadap janin
Factor pada waktu lahir, yakni terjadi gangguan saat anak dilahirkan. Seperti terjadi kerusakan susunan saraf pusat, kemungkinan kelahirannya digunakan alat bantuan sejenis tang, atau karena dinding rahim ibu terlalu sempit. Yang mengakibatkan pendarahan pada bagian kepala.
Factor sesudah lahir, yakni peristiwa-peristiwa tertentu pasca kelahiran, terkadang menimbulkan terhambatnya pertumbuhan anak. Adanya trauma anak terkena benturan, kurang gizi, vitamin dan lain-lain.
Factor psikologis, adanya kejadian-kejadian tertentu yang menghambat perkembangan fungsi psikis, terutama yang menyangkut perkembangan intelegensi dan emosi anak yang berdampak pada proses perkembangan anak.misalnya anak yang terlantar, kurang perawatan baik jasmani maupun rohani, kurang kasih saying. Yang dapat menimbulkan inanitie psikis (kehampaan psikis) anak. Semua ini dapat menimbulkan keterlambatan fungsi jasmani anak.
Adapun factor yang mempengaruhi perkembangan anak antara lain;
Factor hereditas
Keturunan atau warisan dari sejak lahir dari kedua orang tuanya, neneknya dan seterusnya biasanya diturunkan melalui kromosom.




Factor lingkungan
Segala sesuatu yang ada pada lingkungan ia berada. Berupa manusia, tumbuhan, binatang, benda-benda dan sebagainya.
Selain kedua factor tersebut, factor kemauan anak juga sangat berpengaruh karena jiwa anak yang dinamis memberi kekuatan pada segala tingkah lakunya, dan mendorong fase-fase perkembangan secara berturut-turut.
















BAB III
PENUTUP
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulakan bahwa:
Usia 1-4 tahun merupakan periode perkembangan yang pesat dan terjadi perubahan banyak hal dalam diri anak baik perubahan biologis maupun psikis, motorik, social, dan kognitif. Dengan bertambahnya kemampuan motorik membuat anak semakin luas dengan demikian dapat menambah luas lingkup hidupnya dan membantu anak mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu, pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya.
Untuk mengembangkan dan potensi yang pada diri anak diperlukan pengetahuan tentang tugas-tugas pada tiap tahap perkembangan, dimana tugas tersebut harus dilampaui oleh anak pada tahap perkembangan untuk menghindarkan penghambatan bahkan kegagalan perkembangan anak. Seperti belajar berjalan, makan makanan padat, berbicara, bersosialisasi, dan sebagainya.
Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh beberapa factor seperti sebelum kelahiran/masa kehamilan, sesudah lahir dan psikologis, karena pertumbuhan berjalan secara terus menerus berhubungan dengan setiap fase perkembangan baik sebelum dan sesudahnya. Selain itu, ada tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, diantaranya adalah factor hereditas, lingkungan, dan kemauan dari anak. Tugas orang tua adalah memperhatikan factor-faktor tesebut agar perkembangannya tidak terhambat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Fatkhi Adil, 2007. Ifham Tiflaka Tanjah Fi Tarbiyatihi, [ter. Syarif Baraja, knowing your child: Strategi mengenali anak selama masa pertumbuhan, Solo: Samudra.
Ahmadi, Abu Munawar Sholih, 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rhineka Cipta.
F.J Monks, dkk. 2006. Ontwikkelings Psychologie, 1982 [terj. Siti Rahayu Haditomo, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta; Gadjah Mada University Press.
Hasan, purwakania Aliah. 2006. Psikologi Perkembangan islam (menyikap rentang kehidupan manusia dari pra kelahiran hingga pascakematian). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Kartono, Kartini, 2007. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan. Bandung; CV. Mandar Mundur.
Mansur, 2005. Pendidian Anak Usia Dini Dalam Islam, Jogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nashari, Fuad 2003. Potensi-Potensi Manusia, Yogyakarta: Putaka Pelajar.
Papalia E Diane,. 2008. dkk. Human Development (Psikologi Perkembangan). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Yusuf, Syamsu.,2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Yanti, Nur Lusi 2008. Psikologi Anak, Jakarta: PT. INDEKS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar