Selasa, 29 Maret 2011

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK    
            Behaviorisme adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Timbunya aliran ini disebabkan rasa tidak puas terhadap teori psikologi daya dan teori mental state. Sebabnya ialah karena liran-aliran terdahulu hanya menekankan pada segi kesadaran saja.
            Didalam behaviorisme masalah matter (zat) menempati kedudukan yang utama. Jadi melalui kelakuan segala sesuatu tentang jiwa dapat diterangkan. Melalui behaviorisme dapat dijelaskan kelakuan manusia secara seksama dan memberikan program pendidikan yang memuaskan. Dari konsepsi diatas belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan   antara stimulus dan respon.
            Dengan memberikan rangsangan atau stimulus maka siswa akan merespon. Hubungan antara stimulus - respon ini akan menimbulkan kebiasaan – kebiasaan otomatis pada belajar. Jadi pada dasarnya kelakuan anak adalah terdiri atas  respon-respon tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu. Dengan latihan-latihan maka hubungan-hubungan itu akan semakin kuat. Inilah yang disebut S-R Bond Theory. Kelakuan tadi akan dapat ditransferkan kedalam situasi baru menurut hukum transfer tertentu pula.[1]
Edward L. Thordike
            Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami perkembangan melalui lahirnya teori – teori tentang belajar yang dipelopori oleh Edward L. Thorndike (1874 – 1949) pertama kalinya tentang kecerdasan hewan ( Animal Intellijent ) pada 1898.
            Prinsip teori Thorndike adalah belajar asosiasi antara kesan panca indra ( sense impression ) dengan impuls untuk bertindak ( impulse to action ). Asosiasi itulah yang menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan – kebiasaan. Oleh karena itulah, teori Thirndike disebut Connectionism atau Bond psychology.
            Awal eksperimennya dilakukan dengan mempergunakan kucing. Setelah eksperimen terhadap kucing tersebut  berhasil, diteruskanya dengan subjek lainya mulai anjing, ikan dan kera. Awalnya, dipilih kucing yang masing muda dibiarkan lapar, kemudian dimasukkan kedalam kotak ( puzzle box ) bentuk pintu kurungan dibuat sedemikian rupa sehingga jika kucing menyentuh tombol tertentu pintu kotak akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai daging yang ditempatkan diluar kotak sebagai penarik bagi yang lapar itu. Pada usaha pertama kucing belum terbiasa memecahkan problemnya, sampai kemudian menyentuh tombol dan perlu terbuka. Waktu yang dibutuhkan dalam usaha pertama agak lama. Percobaan yang sama dilakukan berulang – ulang.
            Dengan terlatihnya proses belajar dari kesalahan ( trial and eror ), maka waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. Hal ini ditafsirkan Thorndike sebenarnya ia tidak mengerti cara membebaskan diri dari kotak itu, tetapi belajar mencamkan dan mempertaruhkan untuk siap berpikir ( Think trough ) mempertaruhkan respon  yang benar dan menghilangkan respon yang salah.
            Eksperimen diatas dihadapkan kepada situasi yang belum dikenal dan membiarkan subjek melakukan berbagai aktifitas untuk merespon situasi dan mencoba untuk   beraksi sehingga dapat menemukan keberhasilan dalam membuat koreksi sesuatu dengan stimulusnya. Teori keneksionisme disebut juga S.R. Bond Theory and S.R. Psyochology atau terkenal dengan sebutan “ trial and error learning”. Teori ini mempunyai cirri-ciri belajar sebagai berikut .
a. Adanya motif yang mendorong aktivitas
b. Adanya berbagai respon terhadap situasi
c. Adanya eliminasi respon – respon yang gagal atau salah
d. Adanya kemajuan reaksi – reaksi dalam mencapai tujuan.

            Menurut Thorndike, dasar proses belajar pada hewan maupun pada manusia  adalah sama. Baik belajar pada hewan maupun pada manusia, mengacu pada  tiga hukum belajar pokok, yaitu :

1)      Law of readiness ialah reaksi terhadap stimulus yang didukung oleh kesiapan untuk bertindak dan bereaksi itu, reaksi itu menjadi memuaskan
2)      Law of Exercise ialah hubungan stimulus respon apabila sering digunakan akan makin kuat melalui repetition ( Pengulangan )
a)      Law of use; hubungan stimulus respon bertambah kuat jika ada latihan
b)      Law of disuse;  hubungan stimulus respon bertambah lemah jika latihan dihentikan.
3)      Law of Effect ialah menunjukkan kepada makin kuat atau makin lemahnya hubungan sebagai akibat dari pada hasil respon yang dilakukan[2]

Hukum – hukum yang dikembangkan oleh Thorndike itu, dewasa ini lebih dilengkapi dengan prinsip – prinsip sebagai berikut.
1.      Siswa harus mampu membuat berbagai jawaban terhadap stimulus ( multiple respons )
2.      Belajar dibimbing/diarahkan kesuatu tingkatan yang penting melalui sikap siswa itu sendiri
3.      Suatu jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat digunakan juga terhadap stimulus yang lain (bukan stimuli yang semula), yang oleh thorndike disebut dengan perubahan asosiatif (assosiative shifting).
4.      Jawaban – jawaban terhadap situasi – situasi baru dapat dibuat. Apalagi siswa melihat adanya analogi situasi terdahulu.
5.      Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor-faktor yang esensial didalam situasi (prepoten elemen) itu.[3]

Koneksi (hubungan) yang membawa hadiah selalu bertambah kuat, sedangkan koneksi yang membawa hukuman hanya sedikit saja bertambah lemah. Teori Thoendike memberi pengaruh yang besar sekali dalam masalah belajar.

Ivan Petrovitch Pavlov
            Pavlov adalah seorang psikolog asal Rusia. Pavlov melakukan percobaan terhadap anjing yang diberi stimulus bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing. Dari hasil percobaanya, sinyal (pertanda) memainkan peran yang sangat penting dalam adaptasi hewan terhadap sekitarnya.
            Teori Classical Conditioning  yang ditemukan Pavlov didasarkan pada tiga proses, yaitu :  pertama penyamarataan (generalization) sebab respon dikondisikan dengan kehadiran stimulus yang sama melalui keluarnya air liur (anjing), kedua perbedaan untuk merespon (discrimination) apabila ada perangsang makanan kemulutnya, ketiga pemadaman (extinction) terjadi ketika stimulus disajikan berulang – ulang tanpa adanya stimulus berupa makanan
            Kesimpulan dari percobaan Pavlov ialah apabila stimulus yan disediakan (CS) selalu disertai dengan stimulus penguat (UCS), stimulus tadi cepaat atau lambat akan menimbulkan respon atau perubahan yang kita kehendaki dalam CR (Condicioned Reflex) atau reflek bersyarat. Skinner berpendapat bahwa percobaan Pavlov itu tunduk terhadap dua macam hukum yang berbeda , yakni Law of Conditioning atau hokum pembiasaan dan law of Extinction atau hokum pemusnahan yang dituntut.

Burrhus Frederic Skinner
            Eksperimen Skinner pada seekor tikus mempunyai kemiripan denga teori Trial and Error learning oleh Throndike. Tingkah laku belajar menurut Thoorndike selalu melibatkan kepuasan. Sedangkan menurut Skinner, fenomena tersebbut melibatkan reinforcement/penguatan.  Skinner mendefinisikan belajar sebagai proses perubahan perilaku. Perubahan perilaku melalui proses belajar`tersebut melalui proses penguatan perilaku baru yang muncul, yang biasanya disebut dengan Kondisioning operan ( operant condisioning ).          Perilaku, seperti respon dan tindakan adalah sebuah yang secara sederhana menunjukkan apa yang diperbuat seseorang untuk situasi tertentu. [4]  

Prinsip – prinsip belajar menurut Skinner
reinforcement
               reinforcement didefinisikan sebagai sebuah konsekuen yang menguatkan tingkah laku (frekuensi tingkah laku). Keefektifan sebuah reinforcemen dalam pembelajaran perlu ditunjukkan. Karena kita tidak dapat mengasumsikan sebuah konnsekuen adalah reinforce samapai terbukti bahwa konsekuen tersebut adalah reinforce yang dapat menguatkan perilaku. Contohnya adalah pemberian permen pada anaka kecil.

Punishment
Punishment adalah menghadirkan atau memberikan sebuah situasisituasi yang tidak menyenangkan atau situasi yang ingin dihindari untuk menurunkan tingkah laku.




Shaping
            Istilah shaping digunakan dalam teori belajar behavioristik untuk menunjukkan pengajaran ketrampilan-ketrampilan baru atau perilaku-perilaku baru dengan memberikan penguatan kepada siswa untuk menguasai ketrampilan atau perilaku tersebut dengan baik. Misalnya mengajarkan anak kecil menata sepatu dengan rapi dengan cara menunjukkan caranya dengan benar dan membiarkan anak melakukanya sendiri.

Extinction
            Extinction adalah mengurangi atau menurunkan tingkah laku dengan menarik reinformer yang menyebabkan perilaku tersebut terjadi. Extinction ini terjadi secara perlahan – lahan.

Antenseden dan perubahan perilaku
            Dalam operant Condisioning, antenseden dapat memberikan petunjuk apakah sebuah perilaku akan mendapatkan konsekuen yang positif atau negative.Untuk menghasilkan perubahan perilaku pada diri individu, selain dengan memperhatikan konsekuen dapat juga digunakan antaseden-antaseden.


KESIMPULAN
Melalui kelakuan segala sesuatu tentang jiwa dapat diterangkan. Melalui behaviorisme dapat dijelaskan kelakuan manusia secara seksama dan memberikan program pendidikan yang memuaskan. Dari konsepsi diatas belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respon.
Dengan memberikan rangsangan atau stimulus maka siswa akan merespon. Hubungan antara stimulus - respon ini akan menimbulkan kebiasaan – kebiasaan otomatis pada belajar. Jadi pada dasarnya kelakuan anak adalah terdiri atas  respon-respon tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu. Dengan latihan-latihan maka hubungan-hubungan itu akan semakin kuat. 


[1] Prof. Dr. Oemar Hamalik, Proses Belajar  Mengajar,2007. Hal. 38-39
[2] Prof. Dr. H. Baharuddin. M.Pd.I. Pendidikan & Psikologi Perkembangan. 2009. Hal : 165-167
[3] Prof. Dr. Oemar Hamalik, Proses Belajar  Mengajar,2007. Hal. 40
[4] Drs. H. Baharuddin, M.Pd.I, Esa Nur Wahyuni, M. Pd. Teori Belajar dan Pembelajaran, Jogjakarta 2007. Hal 67

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar